Friday, March 9, 2018

Kembalinya Si Setan Merah (1993)*


Oleh Nick Hornby; terj. Mahfud Ikhwan

Di luar, tentu saja, aku ngomel-ngomel dan bersungut-sungut. Aku tunjukkan harapanku yang menggebu bahwa mereka akan babak-belur lagi, lebih baik lagi kalau di saat-saat terakhir sekali, menit terakhir dari pertandingan terakhir. Itu pasti akan lebih sakit.
Aku bilang kepada orang-orang, mending orang lain saja yang menang. Ron Atkinson boleh, bahkan Kenny Dalglish tak apa, yang penting Manchester United jadi nomor dua. Duapuluh enam kali kegagalan United di Liga Inggris, meskipun penontonnya bejibun, meskipun bergepok-gepok uang mereka yang melimpah bisa membeli pemain mana pun yang mereka sukai, adalah salah satu hal terbaik yang terjadi di sepakbola. Dan itu lelucon yang tak habis-habis. Jadi, kenapa itu mesti diutak-atik?
Jika kamu tak biasa hadir di teras stadion, ada baiknya kamu diberi penjelasan soal kesenangan yang lezat dan jahat dari fans tim lain atas ketidakmampuan United memenangkan gelar domestik terpenting. Bayangkanlah orang Inggris dan Kanada dan Australia memenangkan semua Piala Oscar dari tahun ke tahun, sementara orang-orang Hollywood sendiri hanya bisa ndomblong saja; bayangkanlah semua koki di Prancis membuang buku panduan masak Michelin; bayangkan klab paling asyik di Londong menolak masuk staf majalah Face.
Dalam kasus tertentu, schadenfreude (senang lihat orang lain susah--penrj.) adalah kewajiban moral. Manchester United yang menggap diri sebagai klub terbesar, terbaik, dan terpenting di Eropa adalah gunungan bahan gojekan sepanjang lebih dari seperempat abad yang tak mungkin diabaikan oleh sebagian besar kami.
Potonglah tubuh seorang suporter sepakbola jadi dua, maka kebenaran yang rumit akan terlihat. Jika orang biasa punya daging, tulang, dan jeroan, maka kami (para suporter) punya lingkaran-lingkaran berlapis yang sangat mirip dengan kulit pohon. Setiap lapis mewakili setiap musim yang dihabiskan untuk menonton sepakbola. Lapisan-lapisan itu biasanya tak terbedakan, namun untuk kami yang kini sudah di pertengahan 30-an terdapat keanehan botanis; persis di lapisan galih kami, di bagian paling awal, yang ada gabusnya, di situ ada lingkaran mencolok yang berbeda dari lingkaran lainnya. Persis seperti Protestantisme tumbuh dari Katolikisme, dan teori Jung lahir dari teori Freud, sebagian cinta kami kepada Arsenal atau Spurs atau Everton berakar pada sebuah masa pertumbuhan yang terkait erat dengan Manchester United.
Akhir enampuluhan dan awal tujuhpuluhan adalah masa keemasan bagi sepakbola, sebagaimana juga untuk musik pop: Best dan (Rodney) Marsh, Dylan dan Aretha, Charlton Bersaudara dan The Stones, Matt Busby dan Berry Gordy. (Di masa remajaku, sering kualami ketika mimpi aku tertukar-tukar antara musik pop dan sepakbola, dua pilar penyangga hidupku saat melek mata: aku biasa memimpikan bahwa Rod Stewart atau Jimmy Page "ditransfer" ke band lawan, dan karena itu aku tak lagi bisa menyukai mereka.) Alhasil, Manchester United adalah The Beatles (George Best sering disebut-sebut sebagai 'Beatles kelima')--merekalah yang terbesar, terbaik, sine qua non-nya sepakbola Inggris.
Tim mana yang didukung tidak penting lagi, nalarnya begitu. Hubungan antara nyaris seluruh klub Inggris dan United setara dengan hubungan antara The Monkees dan Fab Four. Mau pilih yang pertama atau yang kedua sah-sah saja, namun entah kenapa itu terasa tak pantas. Aku cinta Arsenal, tapi jauh di lubuk hati aku tahu bahwa dewa-dewa yang kupuja--George Armstrong, John Radford, Bobby Gould--tidak tinggal di puncak gunung yang sama dengan Best, Law, dan Charlton. Bobby Gould jelas penghuni Scafell Pike, dan bukannya Olympus (sebagaimana Best dan kawan-kawan).
Jika triumvirat United yang agung itu main di Liga Inggris hari ini... Ah, tak ada gunanya berandai-andai. Mereka semua pastinya akan main di Turin atau Milan, bukannya di Manchester atau Tottemham. Kenyataan bahwa sang Trinitas itu pernah main di Inggris untuk saat ini rasa-rasanya luar biasa--Paul Gascoigne yang sorangan menjelaskan semua hal tentang sepakbola mutakhir kita--tapi fakta bahwa mereka pernah main bersama, di tim yang sama, itu terlalu fantastik, sebuah penyimpangan sejarah yang aneh. Hanya rangkaian terbitnya novel-novel Inggris yang hebat pada musim 1847/1848--Jane Ayre, Dombey and Son, Withering Heights--yang bisa jadi padanan jauhnya.  
Diet gelar pendukung United di kemudian hari begitu ketatnya sampai-sampai seseorang membayangkan bagaimana cara mereka mencolokkan jari mereka ke rongga tenggorokan saat pulang ke rumah (dari stadion). Tendangan salto Law, sepakan geledek Charlton, goyangan dan lob dan cungkilan dan giringan Best yang menakjubkan tinggal jadi wayang umbul yang dijual sepicis dapat dua di Old Trafford.
Ada satu adegan di video Sejarah Resmi Manchester United-nya BBC yang membuatmu menangis darah karena iri dan frustrasi: gol briliant, yang dipuncaki tendangan geledek Charlton di pertandingan Charity Shield melawan Spurs pada 1967. Law berlari sepanjang dua pertiga lapangan, tanpa ampun mempermalukan para pemain bertahan yang dilewatinya, lalu bola dikasih ke Kidd. Kidd mengirim umpan silang, dan Chalton kemudian berusaha membunuh penonton yang berdiri tepat di belakang gawang Tottemham yang dijaga Pat Jenning. Jika Arsenal mencetak gol dengan cara macam itu di tahun enampuluhan, aku akan dengan sukacita membakar diriku sendiri; fans United, sementara itu, paling-paling cuma menguap saja, sebab boleh jadi pekan depan mereka akan melihat gol yang lebih baik.
Jika kemenangan United atas Benfica di Piala Champions tahun 1968 adalah versi sepakbolanya Woodstock, maka apa yang terjadi setelahnya adalah Altamont-nya. Best mengemas kopernya dan ngacir ke Marbella, Law dijual, sementara Charlton dan Sir Matt Busby pensiun; manajer-manajer baru--Wilf McGuinness yang malang, yang rambutnya memutih karena terguncang, lalu Frank O'Farrell--memenuhi Old Trafford dengan masa lalu, paceklik, dan hal-hal yang talak guna.
Mereka beli Wyn Davies dan Ted MacDougall, Ian Storey-Moore, dan, yang luar biasa, Ian Ure, pemain tengah yang bermain untuk Arsenal pada final Piala Liga 1969, yang melukaiku sangat parah hingga codetnya masih tetap terlihat jelas hingga sekarang. Maka, degradasi pun tak terelakkan. Meskipun United langsung bangkit dari Divisi Dua di tahun berikutnya, tak ada yang sama setelahnya.
Beberapa dari kami adalah orang-orang yang pertama kali pergi ke stadion setelah jatuh cinta dengan permainan United dalam versi yang lebih santai; mereka sekarang cuma tim biasa dan kami bisa membenci mereka tanpa takut dosa, dan menertawakan kesialan mereka tanpa rasa malu.
Sebenarnya ada banyak yang bikin ngakak. Tersebutlah laju mereka yang menakjubkan di awal musim 1972/1973 (dua kekalahan dalam duapuluh tiga pertandingan pertama), yang kemudian diikuti oleh keterpurukan ancur-ancuran mereka yang menyenangkan setelah Natal, yang membuat Frank O'Farrell dipecat; selingkuh menggelikan antara (manajer) Tommy Docherty dengan istri tukang pijat United, yang membuat Docherty didepak; kekalahan di final Piala FA melawan Southampton dari Divisi Dua, malapetaka yang bikin semua orang bersorak gembira sebab gol Southampton itu sebenarnya offside bermeter-meter.
Tahun delapanpuluhan sebagian besar sama saja; mereka berjaya di piala yang remeh-temeh, kalau sesekali menanjak di papan klasemen Divisi Utama maka akan segera diikuti oleh kemelorotan yang tak kalah bersemangatnya. Para manajer (Dave Sexton, Ron Atkinson) datang dan pergi; citarasa yang ganjil terhadap striker mahal yang kemudian terbukti mandul minta ampun (Alan Brazil, Garry Birtles, Peter Devenport) menjadi tradisi.
Pada periode inilah, ketika klub-klub di Inggris bisa menjual seorang pemain ke United cukup dengan mengumumkan bahwa pemain itu memang layak dihargai sekian juta pound, para penggemar klub lain bisa mendapat hiburan gratis dari ketidakmampuan berkelanjutan  Manchester United merebut gelar dari kubu Merseyside.
Sekarang, jelas kelihatan bahwa masa tunggu yang lama itu sedang menjelang berakhir. Dan... dan... (alah, tinggal bilang saja susah!)... aku tidak lagi yakin soal betapa tidak bahagia aku dibuatnya. Mula-mula, aku mulai merasakan bahwa lelucon itu sudah setengah dekade lebih panjang, dan itu membuat ia mulai kehilangan rasa lucunya. Kasih mereka apa kek, dan setelah itu mungkin mereka akan bungkam.
Namun ada alasan lain, yang lebih sentimentil, untuk berharap gelar juara itu jatuh ke Old Trafford. Ini adalah masa-masa gelap sepakbola. Norwegia punya peluang besar untuk merebut tempat Inggris di Piala Dunia 1994;  sekarang, mengumpan bola kepada salah satu teman setim, yang sama sekali berbeda dengan menendang bola sekeras-kerasnya ratusan mil ke angkasa, oleh sebagian besar pelatih sepakbola dianggap sebagai tindakan ilegal seorang banci kaleng, dan tak disarankan untuk dilakukan; Liga Premier yang baru jadi bencana kehumasan yang memalukan, sementara para penonton berbondong-bondong menjauh.
Kadang kala terasa bahwa seperempat abad kegagalan Manchester United itu cuma sisi keren dan simbolisme yang efektif, sebuah ilustrasi yang mendalam, dari fakta bahwa zaman keemasan sepakbola sudah lewat. Namun, tim United yang sekarang, memiliki gaung yang lemah namun menyenangkan dari tim mereka di tahun enampuluhan.
Sebagai Trinitas, Giggs, Sharpe, dan Cantona agak kebanyakan suku kata (dibanding pendahulunya, Best, Law, Charlton), namun setidaknya merekalah yang punya takaran yang cukup memadai yang bisa ditawarkan tahun sembilanpuluhan. Ada banyak pemain yang hampir-hampir disebut sebagai George Best Baru, sebanyak orang-orang bilang tentang munculnya Dylan-Dylan baru, tapi Ryan Giggs adalah tiruan Best paling lumayan hingga hari ini; cuma mukanya yang terlalu pucat saja yang mengingatkan kita bahwa ini adalah masa yang kurang sehat.
Tapi bagaimanapun, adalah Eric Cantona, pemain mahal United paling menarik sejak Dennis Law diselamatkan dari Torino di tahun 1963, yang menyediakan otoritas moral bagi tim ini untuk mengklaim gelar juara.
Ya, ia pemain bagus, tapi ia juga sebuah tontonan, sebuah kebahagiaan, sekaligus juga kelemahan, jika mengacu kepada beberapa bekas pemain profesional yang kini mencari nafkah dengan corat-coret pakai pensil di acara Match of The Day di TV. Dan jika memungkinkan merebut gelar Liga dengan uba rampe, misalnya sekerat roti Prancis, di lapangan (dan Leeds United, bekas klubnya, tahu soal hal itu, meskipun ia tidak memperkuat tim itu di beberapa pertandingan), maka boleh jadi para pelatih kita bisa beralih ke hal-hal estetis dan bukannya mekanis sebagai sumber ilham.
Cantona membaca puisi—bajingan betul. Ia tahu siapa Rimbaud! Dan, seperti di pertandingan kandang terakhir United, ia seperti bisa menggelitik bola di udara dengan kaki luarnya, dan dengan begitu Irwin tinggal hajar saja.
Aneh rasanya melihat tabel akhir klasemen Liga dengan Manchester United ada di puncaknya. Kami sudah sangat terbiasa melihat ada dua atau tiga klub yang menutupi mereka di atasnya—rasanya seperti melihat rumah yang tanpa atap, atau melihat Terry Wogan tanpa rambut palsu. Sekalipun begitu, akan mustahil untuk tidak merasakan rasa tegang oleh ketertarikan yang nostalgis, dan menerima semuanya itu sebagai tanda bahwa masa-masa indah itu akan terulang lagi.
United akan menjuarai Piala Champions lagi, akan ada serangkaian single-single hebat yang dihasilkan di label Tamla Motown, Tuan Waverley akan memberikan Napoleon Solo misi U.N.C.L.E baru dan aku akan menghabiskan setiap Sabtu pagiku nonton acara anak-anak di ABC. Jangan ngaco, United (kecuali kalau kalian main ke London Utara, di mana kalian tak akan dapat tos dariku); aku ingin masa kecilku kembali.    
 
*diterjemahkan dari "Return of The Red Devil (1993)" dalam Fan Mail, Nick Hornby, 2013

Tuesday, March 6, 2018

Momen Terhebat*

Oleh Nick Hornby; terj. Mahfud Ikhwan 


(Liverpool v Arsenal, 26.5.89)

Sepanjang aku menonton sepakbola, duapuluh tiga musim, hanya tujuh tim yang memenangkan Divisi Utama: Leeds United, Everton, Arsenal, Derby County, Nottingham Forest, Aston Villa, dan yang bersimaharajalela sebelas kali, Liverpool. Lima tim berbeda jadi pemuncak pada lima tahun pertamaku menonton, bagiku itu menunjukkan bahwa liga  bisa kapan-kapan sesuai dengan yang kita inginkan, meskipun untuk itu kadang kita mesti menunggu. Namun, ketika tujuhbelas musim telah berlalu, lalu tujuh belas menjadi delapan belas, maka akhirnya terang bagiku bahwa Arsenal boleh jadi tak akan menjuarai Liga lagi di sepanjang sisa hidupku. Itu tak semelodramatis kedengarannya. Penggemar Wolves yang merayakan gelar ketiga mereka dalam enam musim pada 1959 pasti sangat sulit menerima bahwa tim mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu mereka di Divisi Dua dan Divisi Tiga pada tiga puluh tahun ke depannya; pendukung Manchester City berusia '40-an ketika the Blues memenangkan gelar Liga mereka pada 1968 pasti sekarang sudah pada jompo sekarang.

Seperti semua penggemar, sebagian sangat besar pertandingan yang aku telah tonton adalah pertandingan Liga. Dan seperti sebagian besar musim di mana Arsenal tampak tak tertarik lagi dengan gelar Liga begitu melewati Natal, tidak juga dekat ke tubir degradasi, aku hitung-hitung bahwa separoh pertandingan (yang kutonton) itu tak bermakna, setidaknya jika menurut penulis sepakbola ketika menyebut-nyebut tentang pertandingan yang tak bermakna. Di situ tak ada adegan gigit kuku atau gigit jari atau muka-muka cemas; kupingmu tak akan jadi panas karena kau tempelkan ke son radio, mencoba mendengar bagaimana Liverpool merangsek; kamu juga, nyatanya, tidak terpuruk dalam keputusasaan atau matamu melotot karena begitu gembira oleh hasil akhir pertandingan timmu. Jika ada yang bermakna, maka itu bukan yang tertera di tabel klasemen, melainkan apa yang kamu bawa kepada mereka.

Dan setelah kurang lebih sepuluh tahun terus-terusan begini, Liga kemudian menjadi sesuatu yang bisa dipercaya bisa juga tidak--seperti Tuhan. Kamu akui bahwa itu mungkin, tentu saja, dan kamu menghargai pandangan mereka yang tetap mampu untuk terus percaya. Kira-kira antara 1975 hingga 1989 aku sudah tidak percaya lagi. Ya, aku berharap, pada tiap awal musim; dan pada waktu-waktu tertentu--misalnya di pertengahan musim 86/87, ketika kami memimpun sekitar delapan hingga sembilan pekan--aku hampir saja merobek selubung kekufuranku. Namun, di lubuk terdalam hatiku, hal itu tak akan pernah terjadi, sebagaimana aku tahu bahwa itu memang tak akan terjadi; ini seperti yang biasa aku pikirkan saat muda, mencari obat penangkal kematian sebelum aku menjadi tua.

Pada 1989, delapan belas tahun setelah Arsenal terakhir kali memenangi Liga, aku dengan enggan dan tolol menuruti nafsu untuk percaya bahwa Arsenal mungkin saja jadi juara. Mereka ada di puncak antara Januari hingga Mei. Pada pekan terakhir musim yang kemudian molor karena Tragedi Hillsborough mereka memimpin lima poin bersih atas Liverpool dengan tiga pertandingan tersisa. Liverpool memiliki satu pertandingan lebih di tangan, namun kata para bijak mengatakan bahwa Tragedi Hillsborough dan para penontonnya yang jadi korban akan membuat mereka mustahil untuk tetap menang. Lagi pula, dua dari tiga pertandingan akan digelar di kandang, melawan tim yang lebih lemah. Satu pertandingan lain adalah lawan Liverpool, tandang; pertandingan yang akan menentukan akhir musim.

Sampai lapangan Arsenal terbalik, aku tidak begitu saja kemudian tobat jadi anggota Gereja Pengiman Kemenangan Hari Akhir. Mereka kalah, dengan menyedihkan, di kandang atas Derby; dan di pertandingan terakhir di Highbury, melawan Wimbledon, mereka dua kali membuang kemenangan dan akhirnya imbang 2-2 atas tim yang mereka gasak 5-1 di pembuka musim. Setelah pertandingan melawan Derby aku bertengkar dengan pacarnya hanya karena perkara secangkir teh. Namun setelah lawan Wimbledon, aku sudah tidak marah lagi, cuma bengong karena kecewa. Untuk pertama kalinya aku bisa memahami perempuan di sinetron yang sebelumnya patah hati tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi kepada orang lain: aku sebelumnya tidak pernah melihat hal itu sebagai sebuah pilihan, tapi sekarang aku benar-benar dilucuti ketika aku masih tetap keras kepala dan sinis. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, tak akan, tak akan pernah. Dan aku konyol, ya, aku tahu sekarang, sebagaimana aku tahu bahwa aku akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari patah hati yang parah setelah merasa sudah begitu dekat dan kemudian gagal.

Tapi ini belum sepenuhnya berakhir. Liverpool punya dua pertandingan tersisa, lawan West ham dan melawan kami, Arsenal, keduanya di Anfield. Karena dua tim begitu dekat nilainya, hitung-hitungannya jadi begitu rumit: berapa pun skor yang dicetak Liverpool untuk mengalahkan West Ham, Arsenal mesti mencetak separohnya. Jika Liverpool menang 2-0, kami harus menang 1-0, dan terjadilah yang akan terjadi. Waktu itu Liverpool menang 5-1, artinya kami membutuhkan dua gol kemenangan; "DOAMU BELUM TERKABUL, ARSENAL", menjadi headline halaman belakang Daily Mirror.

***   

Aku tidak berangkat ke Anfield. Awalnya pertandingan dijadwalkan di awal musim, saat hasilnya tak terlalu penting. Seiring berlalunya waktu, jelas sudah bahwa pertandingan itu akan menentukan hasil akhir kompetisi, dan tiket pun sudah lama ludes. Pada pagi hari aku jalan-jalan ke sekitaran Highbury untuk membeli kostum baru tim, cuma agar aku merasa berbuat sesuatu. Meski tak bisa disangkal bahwa memakai kostum di depan televisi tidak akan memberikan banyak dukungan kepada tim, aku tahu itu akan membuatku merasa lebih baik. Ketika hari masih siang, sekitar delapan jam sebelum kick-off malam, bus-bus dan mobil-mobil sudah berseliweran di sekitar sana. Sembari berjalan pulang, aku mendoakan orang-orang yang kupapas semoga mereka beruntung; prasangka baik mereka ("tiga-satu", "dua-nol, sipil", bahkan ada yang keterlaluan "empat-satu") di Mei yang indah ini membuatku prihatin. Para pemuda-pemudi yang penuh semangat dan penuh keberanian itu mending terjun ke Pertempuran Somme untuk kehilangan nyawa, daripada pergi ke Anfield untuk kehilangan--yang terburuk--iman mereka.

Aku berangkat kerja sore harinya, dan merasa muak terhadap diri sendiri. Setelahnya aku langsung ngeloyor ke rumah seorang teman pendukung Arsenal yang hanya sepelemparan batu dari North Bank untuk nonton siaran langsung. Segala hal yang terjadi malam itu terkenang, mulai dari momen ketika tim keluar menuju lapangan dan pemain Arsenal berlari melewati The Kop dan meletakkan beberapa karangan bunga. Dan pertandingan pun berjalan. Dan jelas sudah, begitu Arsenal menjalani pertempuran hidup-matinya, betapa baiknya aku mengenali timku, wajah-wajah dan tingkah-polah mereka, dan betapa aku mencintai mereka satu demi satu. Senyum Merson dengan gigi jarangnya, juga potongan rambut kekanakannya yang awut-awutan; kejantanan Adams dan usahanya yang menawan untuk menjadi jantan dengan segala kekurangannya; elegansi Rocastle yang terpompa; ketekunan Smith yang melelehkan hati... Aku dapati pada diriku maaf bagi mereka karena telah begitu dekat (dengan gelar juara) dan kemudian amblas; mereka masih muda, dan melewati musim yang luar biasa, dan sebagai suporter kamu tak bisa menuntut lebih dari itu.

Aku begitu kepincut ketika kami mencetak gol tepat di awal babak kedua. Dan aku tersengat lagi sepuluh menit berikutnya ketika Thomas mendapatkan peluang bersih dan hanya menendangnya langsung ke arah Grobbelaar. Tapi Liverpool tampak jadi lebih kuat dan menciptakan peluang di akhir-akhir pertandingan. Dan, akhirnya, bersamaan dengan angka waktu di sudut layar televisi yang menunjukkan bahwa sembilan puluh menit sudah lewat, aku sudah menyiapkan sebuah senyum gagah berani untuk tim yang gagah berani itu. "Jika Arsenal kehilangan gelar Liga, meskipun sempat memimpin, akan jadi keadilan yang puitik bahwa mereka mendapat imbalan di pertandingan terakhirnya, bahkan jika mereka tak memenanginya," kata komentator David Pleat manakala Kevin Richardson pendapat perawatan karena cedera, sementara The Kop sudah mulai berpesta. "Itu akan jadi sedikit penghiburan bagi mereka kurasa, David," timpal Brian Moore. Sedikit penghiburan tentu saja, untuk kami semua.

Richardson akhirnya bangkit, sembilan puluh dua menit sudah lewat, dan ia bahkan mampu membuat sebuah tekel di area penalti kepada John Barnes; lalu Lukic melemparkan bola kepada Dixon, Dixon angkat bola ke depan, umpan kepada Smith, sebuah cukilan brilian dari Smith... dan tiba-tiba, pada menit terakhir di pertandingan terakhir di pengujung musim, Thomas merangsek, sendirian, dengan peluang untuk memenangkan Liga bagi Arsenal di ujung kakinya. "Sekaranglah saat merebutnya!" Brian moore memekik. Dan di saat seperti itu aku bahkan masih mendapati diriku--hasil dari mengambil hikmah atas keterpurukanku ke dalam skeptisisme yang membatu--menahan diri untuk berpikir, katakanlah, setidaknya kami telah begitu dekat dengan juara, dan bukannya berpikir: ayo Michael, pliss Michael, ayo masukkan bolanya, mohon Tuhan, biarkan ia mencetak gol. Kemudian Thomas berjumpalitan, dan aku terkapar di lantai, dan semua orang di ruangan itu berlompatan menindihku. Delapan belas tahun, semua terlupakan dalam satu kedipan.

***

Begitu peluit panjang dibunyikan (cuma ada satu momen yang menghentikan detak jantung, ketika Thomas berbalik dan menyontek umpan back pass yang sangat biasa kepada Lukic, selamat secara sempurna namun dengan ketenangan yang tak kurasakan) aku langsung lari keluar pintu menuju kedai minum di Blackstock Road; tanganku terentang, seperti seorang bocah yang bermain pesawat terbang. Manakala aku tengah melayang di jalanan, seorang perempuan tua keluar dari pintu rumahnya, menyoraki lariku, seakan-akan akulah Michael Thomas. Lalu aku dengan sembrono mencongkel sebotol sampanye murahan. Belakangan aku sadari, melalui cerita si pelayan kedai, bahwa cahaya kewarasan telah menghilang sama sekali dari mataku. Aku bisa mendengar tempik dan sorak dari kedai dan toko-toko kelontong dan rumah-rumah di sekitarku; dan manakala para penggemar mulai berkerumun di stadion, beberapa dengan berselimut spanduk, beberapa yang lain duduk-duduk di atap mobil yang mendengking-dengking, siapa pun memeluk siapa pun selagi sempat, dan kamera TV mulai datang mengabadikan pesta itu untuk Berita Terakhir, dan ofisial klub melongok dari jendela untuk melambaikan tangan kepada kerumunan yang berlonjakan, kuakui bahwa aku gembira tidak ikut ke Anfield, dan melewatkan kebahagiaan ini, subuah ledakan yang nyaris latin di depan pintu rumahku sendiri. Setelah duapuluh satu tahun aku tak lagi merasakannya, perasaan macam yang kurasakan saat musim Juara Ganda dulu, bahwa kalau aku tak hadir di pertandingan maka aku tak berhak untuk ambil bagian dalam perayaan; aku sudah mengerjakan tugasku, tahun demi tahun demi tahun, dan aku merasa berhak.



*diterjemahkan dari Fever Pitch, Nick Hornby, 1992.
 
     

Monday, August 28, 2017

Frustasi di Gelredome

Oleh Sarani Pitor Pakan
Gelredome, 26 Agustus 2017
Udara sedang bersahabat di Arnhem. Orang-orang pergi ke stadion dengan celana pendek dan kaos, termasuk kaos tanpa lengan. Sabtu yang menyenangkan. Tidak banyak sabtu-sabtu seperti ini di musim panas ala Belanda. Maka orang-orang masuk ke Gelredome dengan senyum mengambang. Tak ada wajah-wajah merengut, tak ada gelagat-gelagat kesal. Semua senang. Termasuk suporter yang saya temui di bus menuju Arnhem. Mari kita merayakan akhir pekan dengan sepak bola.
Terlebih lawan sore itu ialah AZ. Klub asal Alkmaar itu yang dikalahkan Vitesse di final KNVB Beker musim lalu. Sebagai catatan, itu trofi pertama sepanjang sejarah berdirinya klub. Catatan kedua, jika kita tidak menghitung gelar juara Eerstedivisie. Jadi, melihat AZ di rumah sendiri mengembalikan bayangan kejayaan itu di benak suporter Arnhem. AZ adalah bagian dari memori indah Vitesse. Justru karena mereka menjadi korban. Terlebih lagi, tengah pekan lalu, undian fase grup Liga Europa baru saja dihelat. Arnhem akan menjamu Lazio, Zulte Waregem, dan Nice. Balotelli akan merumput di Gelredome, kawan!
Mood apik suporter Arnhem berantakan di menit kedua. Adalah si jangkung Wout Weghorst yang membuat seisi stadion bungkam. Saya mengingat Weghorst dengan imaji tentang Lilipaly. Di kamar saya di Haarweg, musim semi lalu, saya menonton Cambuur vs Alkmaar di televisi. Weghorst yang tinggi berkali-kali mengancam gawang Cambuur yang dibela Lilipaly. Pemain nomor sembilan ini sempat mencetak gol di babak tambahan, merayakan dengan girang ke arah suporter AZ, lalu wasit menganulirnya dengan kontroversial. Di akhir laga, Lilipaly dkk takluk lewat adu penalti. Weghorst dan AZ menuju final menantang Vitesse.
Di Sabtu itu, Weghorst tak perlu babak tambahan untuk mengoyak gawang lawan. Ia cuma butuh dua menit. Dia berlari merakayan gol dan menuju pojok lapangan, sambil sedikit menoleh ke asisten wasit. Mungkin ia takut golnya dianulir lagi. Tapi, tidak. 1-0 untuk AZ. Sejak gol itu, sebenarnya, pertandingan menjadi lebih menarik. Dan bagi suporter netral seperti saya, situasi ini begitu menyenangkan. Karena permainan akan lebih terbuka, karena Vitesse bakal habis-habisan mengejar ketertinggalan di depan ribuan pendukungnya. Oh saya akan punya 88 menit yang menggairahkan, pikir saya saat itu.
Tim Matavz menjadi poros serangan Vitesse sejak gol Weghorst. Berkali-kali ia meliak-liuk di dekat kotak penalti tim tamu, mengoper ke Bryan Linssen dan Milot Rashica, atau menerima bola dari Alex Buttner. Matavz bukan nama asing di Eredivisie. Ia, lahir di Republik Sosialis Yugoslavia, melambung ketika merumput di utara sana, di Groningen. Lantas, PSV Eindhoven membawanya ke selatan. Lebih dari 50 gol ia cetak di tanah Belanda. Maka ketika Vitesse kehilangan Ricky van Wolfswinkel, dan mereka akan berlaga di Eropa, Matavz dibawa “pulang” dari perantauannya di Jerman. Ia adalah sebuah garansi.
Saya duduk di baris paling depan Edward Sturing Tribune, tribun utara. Di kanan-kiri saya, meneer-meneer itu mulai berteriak: membentak wasit saat tak memberi pelanggaran, mengajari Fankaty Dabo cara bermain bola, atau sekadar mengumpat ‘godverdomme’ tanpa alasan yang jelas. Sepak bola bukan sains, kita tak butuh kejelasan. Di sini, di stadion, di Gelredome pada sebuah sore yang hangat, kita membiarkan emosi tumpah. Kita membiarkan rasa frustrasi itu larut ke dalam lapangan. Dengan bantuan Heineken, semua lebih mudah. Alkohol membuat kita menyentak lebih keras ke arah para pemain yang malang itu. 
Di Gelredome, saya mengingat stadion-stadion lain. Saat saya duduk di tengah-tengah kerumunan suporter tuan rumah, dan mau tak mau saya harus seolah-olah mendukung tim mereka. Maka saya larut. Saya menendang bangku di depan saat kiper lawan menepis bola, berteriak saat wasit memberi kartu kuning yang tak pantas, atau meninju tangan sendiri saat peluang di depan mata malah melenceng. Menjadi netral di dalam stadion adalah sebuah kemustahilan. Emosi itu, rasa frustrasi itu, menular seperti bakteria dan saya menyerapnya dengan utuh. Di Gelredome, saya seperti menghirup kokain berwarna kuning-hitam.
Dan frustrasi itu bertahan hingga jeda. Orang-orang beranjak ke atas, memesan bir dan frites, atau sekadar bercengkrama, entah tentang sepak bola atau bukan. Kita semua tahu, ketika wasit meniup peluit tanda istirahat, bukan cuma pemain yang butuh rehat. Para suporter di tribun juga perlu berhenti sejenak. Kita butuh makan dan minum, kita butuh memberi jeda pada emosi yang meluap-luap. Saat di ruang ganti pelatih memberi instruksi, kita juga membahas taktik dan statistik, kita berdebat tentang siapa yang harus ditarik keluar.
Matt Miazga masuk di babak kedua, menggantikan Arnold Kruiswijk. Ia menjadi tandem bagi kapten Guram Kashia. Anak muda dari New Jersey ini datang dari Chelsea sebagai pinjaman sejak 2016. Antonio Conte belum membutuhkannya. Saat kita bicara soal Chelsea dan Vitesse, kita bicara soal sisi lain sepak bola modern: feeder club. Sejak diambil alih Merab Jordania pada 2010, dua klub tampak begitu akrab. Jordania ialah rekan bisnis Roman Abramovich, jadi kita tahu logikanya. Pada 2013 Vitesse berganti pemilik, yang lagi-lagi kolega Abramovich. Kisah cinta itu berlanjut hingga sekarang.
Musim paling diingat tentu saja 2013-14. Nama-nama seperti Lucas Piazon, Christian Atsu, dan Patrick van Aanholt memenuhi skuat Vitesse. Tujuh pemain pinjaman Chelsea ada di tim yang diasuh Peter Bosz, yang musim lalu membawa Ajax ke final Liga Europa dan sekarang ada di bench Borussia Dortmund. Di musim itu, dengan bantuan orang kaya Rusia, Vitesse menjelma jadi anak kecil nakal yang mengganggu tidur nyenyak tim besar. Berkali-kali mereka duduk di peringkat satu atau dua, meski di penghujung musim melorot ke posisi enam. Tapi, setidaknya orang-orang jadi tahu Vitesse bisa jadi ancaman. Mungkin suatu waktu nanti.
Selain Piazon dkk, Nemanja Matic juga sempat merapat ke Arnhem pada 2010-11. 27 laga dia mainkan untuk Vitesse, tapi tak ada yang spesial dari Matic di musim itu. Dengan Matic di tengah lapangan, Vitesse cuma finis di peringkat 15. Tak ada Piazon di lapangan sore itu, tak ada Matic. Tapi ruh Chelsea tetap ada disana lewat Charlie Colkett. Ia menjadi sentral di lini vital. Thomas Bruns dan Navarone Foor berada di kanan-kirinya. Nama terakhir, jika anda tertarik, memiliki darah Maluku dan sempat disinggung di forum suporter Indonesia saat kita bicara soal naturalisasi. Toh, Foor tak peduli soal Indonesia hari itu. Cuma Vitesse di kepalanya.
Gol itu tiba juga. Matavz! From Slovenia with love. Tiga laga tiga gol, ini bukan sembarangan. Ia adalah garansi. Sejak gol itu, Arnhem jadi lebih percaya diri. Kita bisa melihatnya dari cara kaki-kaki Kashia dan Rashica memegang bola. Di tribun, animo suporter kembali melonjak. Frustrasi itu tandas berganti harapan. Pada momen-momen seperti ini, di tribun stadion tim-tim semenjana, sebuah gol sudah cukup. Gol Matavz adalah alegori untuk harapan. Kita tahu, suporter sepak bola adalah jenis manusia ambivalen yang terjebak di antara frustrasi dan harapan, di antara rasa senang dan sedih yang ekstrim, di antara statistik dan irasionalitas. Sepak bola membentuk kita jadi paradoks yang susah dimengerti.
Gelredome pelan-pelan mulai menggelap. Tapi Vitesse sedang membara. Mereka harus menyelesaikan libido yang meluap-luap ini. Dan suporter ingin pulang dengan senyum, sama ketika mereka memasuki stadion. Pada titik ini, sepak bola menjadi titik temu paling brutal antara harapan dan kenyataan. Adalah Weghorst, lagi-lagi dia. Lagi-lagi Marko Vejinovic. Nama terakhir mengirim assist kedua untuk Weghorst di sore yang menua itu. Umpan silang anak Serb itu membelah bek-bek tuan rumah dan menuju kepala si nomor sembilan. Tak ada pesta di Gelredome hari ini. Suporter akan pulang dengan makian. Itu pasti.
Biasanya, di 10 menit akhir, saat tim tuan rumah sedang tertinggal, kita bisa melihat dua jenis suporter. Golongan pertama akan semakin kencang beteriak, memaki, dan mengumpat. Golongan kedua akan lemas terduduk, seperti seorang tua menanti kematian yang lekas. Tapi ada dua jenis lain. Mereka yang bertahan sampai peluit akhir dan mereka yang pergi sebelum waktunya. Entah menit ke berapa, seorang meneer yang paling kencang berteriak sejak menit pertama beranjak dari kursinya. Ia pulang. Selesai, katanya. Wajahnya merah, entah karena matahari atau bir. Tapi yang jelas ia meleleh oleh emosi. Kita bisa melihat dari rahangnya yang tegang dan raut mukanya yang keras. Frustrasi telah menelannya mentah-mentah.
Vitesse seolah tak berniat menyamakan kedudukan. Ada kepasrahan di antara para pemain. Saat Miazga dan Dabo terduduk di lapangan karena keram, kita tahu 11 pemain itu sudah habis. Di menit terakhir waktu tambahan, kiper Remko Pasveer maju ke kotak penalti Alkmaar. Sepak pojok untuk Vitesse. Peluang terakhir. Semua pemain merangsek mengerebungi gawang tim tamu. Entah siapa yang mengambil tendangan penjuru itu, tapi bola melambung ke arah kotak. Waktu seakan berhenti, menjelma jadi teater yang dramatik. Lalu Kashia melompat, menanduk bola sekuat-kuatnya. Bola jatuh tepat di pelukan kiper AZ. Di detik itu, saya menunduk, membenamkan kepala saya di antara dua paha. Hari itu saya suporter Vitesse. Dan wasit meniup peluit panjangnya.

Tuesday, April 11, 2017

Membayangkan Leicester City Juara Liga Champions

Oleh Mahfud Ikhwan

Bola yang membentur pundak Robert Huth itu bergulir pelan saja di antara kaki dua bek Juventus yang terkejut. Dan Gigi Buffon yang ingin pensiun dengan gelar Liga Champion hanya bisa memukuli permukaan lapangan, menyesali diri sendiri, karena ada di posisi yang salah. Ia meraung, tapi segera meraih bola dari sudut jaring gawangnya, menepuk keras punggung beberapa beknya yang masih tercengang, dan meminta Paulo Dybala untuk segera membawa bola ke lingkaran tengah. Pertandingan sudah ada di menit 117 perpanjangan waktu babak kedua, setelah 90 menit pertandingan normal gagal menghasilkan gol.

Diawali dari lemparan ke dalam jauh dari Christian Fuch, yang kemudian disambut sundulan ke belakang oleh Jamie Vardy, Huth, seperti biasanya, ada di tempat yang tepat. Di antara kerumunan, dan dengan sedikit kekagetan, ia menyambut bola liar dari Vardy dengan kepalanya yang memanjang. Bukannya kepala, bola itu justru melintir ke pundak. Itu jelas bukan cara terbaik sebuah sundulan dilakukan, lebih-lebih di pertandingan final Liga Champions. Tapi siapa peduli? Itu gol. Itu GOL!

Beberapa ribu pendukung Juventus melongo, membekap kepala—mereka mengutuki diri, kenapa hal ini terjadi lagi, dan lagi, kepada mereka. Namun, seisi Stadion Millenium Cardiff sisanya meledak oleh rasa terkejut yang indah. Dan tiga menit setelahnya adalah sejarah.

***

Tentu saja, tiga paragraf pembuka di atas cuma karangan saya. Sebab, hanya orang ngarang yang akan menebak Leicester City mencapai final Liga Champions, apalagi sampai memenanginya. Tak perlu bertanya kepada mesin pencari untuk tahu ada di posisi mana dan perbandingan berapa Leicester diunggulkan di rumah-rumah judi di Eropa. Di antara raksasa macam Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, dan Juventus, atau bahkan klub dengan klub macam Atletico dan Monaco, Leicester jelas bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.

Tapi, kalau kita belum lupa, siapakah Leicester City sebelum mereka menjadi juara Liga Inggris sepuluh bulan lalu? Mereka adalah tim yoyo, yang dikenal karena hanya sesekali nongol di liga level atas. Enam musim sebelum bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya, mereka masih terjerembab di liga kasta tiga. Naik ke Liga Ingris pada musim 2014-15, mereka lolos dari degradasi dan bisa bertahan di Liga Premier karena tujuh kemenangan ajaib di akhir kompetisi.

Itulah kenapa, pada awal musim berikutnya rumah judi Ladbrokes dan William Hill memasang mereka dalam angka taruhan 5000/1. Leigh Herbert, seorang tukang kayu dari Leicester, dan 12 orang lainnya, dianggap fans putus asa ketika mereka tetap bersikeras menaruhi tim pujaannya. Sementara itu Gary Lineker (striker legendaris Inggris, seorang penyiar sepakbola ternama, dan fans Leicester) mungkin hanya berniat bercanda ketika mengatakan akan siaran dengan cuma pakai cawat jika si Rubah juara liga.

Pada awal Mei 2016, Herbert pun jadi orang kaya baru. Lineker akhirnya benar-benar muncul di televisi cuma dengan cawatnya. Dan kita kemudian menyaksikan, di Liga Champions, Leicester menjuarai babak penyisihan grup, sebelum menyingkirkan tim dengan tradisi hebat di turnamen, Sevilla, di 16 besar.

Kejutan tak sering terjadi di sepakbola, sebagaimana juga dalam kehidupan. Karena itu, kita semua menyukai kejutan.

***

Meski begitu, kejutan adalah nama tengah sepakbola.

Orang selama ini menyangka, keindahan sepakbola semata ada pada cara ia dimainkan. Itu kenapa belakangan orang berbondong-bondong memuja Barcelona. Barcelona memang memberikan kegembiraan dengan tiki-takanya, dengan Messi-nya. Dan memberi kegembiraan adalah sifat hakiki sepakbola. Tapi bukan hanya itu.

Eduardo Galeano menyebut, keindahan sepakbola juga terletak pada kemampuannya untuk mengelak dikira, menolak disangka. Sepakbola menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.

Yang tak terbayangkan itu tak sering terjadi. Karena itu ia istimewa. Ia dikenang dalam rentang waktu panjang, bahkan mungkin abadi. Makanya, Pele, Cruyff, Maradona, dan Messi ada di tempat yang berbeda dalam statistik dan sejarah sepakbola. Brazil sudah memenangi lima Piala Dunia, tapi mereka tak akan bisa melupakan Maracanazo. Sebelum timnas Jerman terbiasa dengan piala, mereka mengawalinya dengan mengejutkan dunia: menghajar Hungaria di final Piala Dunia 1958. Benarkah final Piala Dunia 1974 dikenang karena keindahan Total Football Belanda? Boleh jadi, tapi mungkin juga karena orang-orang tak menyangka Der Panzer yang inferior bisa bangkit dengan dua golnya. Dan gelar Denmark pada Piala Eropa 1992 masih tetap mengundang senyum dan geleng kepala, sebagaimana gelar Yunani pada 2004.

Contoh teranyar ditunjukkan Barcelona, saat menang 6-1 atas PSG untuk lolos ke 8 besar. Cules yang terlalu fanatik mungkin akan tetap yakin bahwa keberhasilan itu karena tiki-taka yang selama ini menjadi ciri Barcelona. Tidak. Di pertandingan itu tiki-taka tak berjalan, bahkan tak dipakai. Pertahanan kedodoran. Umpan-umpan kunci terbaik diciptakan Verrati, bukannya Messi. (Sebelum tendangan bebas Neymar yang kemudian dibuat jadi gol ke-6 oleh Sergi Roberto, nyaris tak ada umpan hebat yang masuk kotak penalti PSG.) Gol terbaik di pertandingan itu pun tak dicetak pemain Barcelona, tapi oleh Cavani.

Tapi itu tetap saja pertandingan sepakbola yang indah. Hal terindah yang membuat saya berdiri dan bertepuk tangan di akhir pertandingan adalah karena kita semua, termasuk di dalamya para pendukung Barca, tak menyangka ujung pertandingan akan sebegitu rupa. Dan, tentu saja, itu tak kalah indahnya dengan permainan indah manapun yang pernah disajikan Barca.

***

Sejak Red Star Belgrade jadi juara pada 1991, gelar antarklub Eropa hanya mondar-mandir di antara klub-klub besar, dari kompetisi-kompetisi yang bergelimang uang. Mungkin yang bisa sedikit kita golongkan sebagai “mendingan” adalah ketika Monaco dan Porto ada di partai final Liga Champions 2004. Selebihnya, masa-masa ketika klub semenjana macam Steau Bucuresti, Aston Villa, Nottingham Forest, hingga Hamburg bisa menjadi juara tampaknya sudah lama berlalu.

Industrialisasi membuat sepakbola makin minim kejutan. Tak seperti penonton, para pemilik modal menginginkan kepastian. Sepakbola jadi kian rutin. Atau, kalau bisa, memang harus dirutinkan. Klub-klub kaya mendominasi, dan semakin mendominasi.

Saya adalah pendukung salah satu tim besar itu. Dan saya ingin tim pujaan saya jadi juara Liga Champions setiap tahunnya. Tapi, terkadang, saya ingin tahu bagaimana rasanya dikejutkan. Dortmund, atau Atletico, atau Monaco mungkin akan lebih mudah dibayangkan menjadi ganjalan bagi raksasa macam Munchen, Madrid, Barcelona, atau Juve. Tapi kenapa tidak sekalian Leicester?

Pendukung tim-tim besar, mungkin termasuk saya, boleh jadi akan kecewa. Orang-orang yang memuja sepakbola indah akan menyesalinya. Bagaimana bisa tim dengan materi buruk, bermain sangat sederhana, dan sedang berjuang dari degradasi di liga domestiknya, bisa juara? Mungkin begitu pertanyaannya. Tapi, jika klub macam Leicester bisa juara, ia akan memberi pelajaran lain tentang sepakbola—sebagaimana sebelumnya Eropa pernah mendapatkannya dari Denmark dan Yunani. Ia akan menunjukkan keindahan sepakbola dari sisi yang berbeda.


Bahwa: sepakbola adalah permainan yang mengelak dikira, menolak disangka. Ia menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.  


*Dimuat di Jawa Pos, Selasa 11 April 2017

Wednesday, April 5, 2017

Brazil Sedang Menemukan Dirinya Kembali*

Oleh   Darmanto Simaepa

“Sepakbola membantu Brazil menemukan dirinya sendiri dan membuat dunia menemukannya,” Nelson Rodrigues, penulis naskah lakon kenamaan Brazil era 1950-an, pernah bilang.

Itu bermula setengah abad yang lewat. Di Piala Dunia 1950, Brazil muda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah negara yang modern, penuh ambisi dan percaya diri. Empat tahun sebelumnya, mereka melahirkan konstitusi demokratik untuk mengakhiri kediktaturan selama masa perang dunia ke dua.

Optimisme dan kebaruan membutuhkan simbol. Ukuran sangat penting mengingat Brazil adalah negara besar dengan pantai lebar, sungai besar, hutan hujan tropis raksasa. Mereka sudah punya patung Yesus paling besar. Namun mereka membutuhkan simbol baru. Untuk itulah mereka membangun stadion terbesar di dunia: Maracana.

Maracana menyembul ke udara, berdiri gagah di antara pemukiman kumuh. Ia mewakili patriotisme baru Brazil. Ia tidak hanya menunjukkan ambisi Brazil, tetapi juga meletakkan Brazil di tengah percaturan dunia. Sepuluh ribu lebih pekerja memburuh siang malam untuk menyelesaikan stadion dalam waktu dua tahun.

Hasil-hasil di babak pendahuluan memberi keyakinan bahwa tidak mungkin Brazil tidak juara. Bahkan, sebelum pertandingan mulai, Walikota Rio de Janairo mendeklarasikan bahwa medali telah dihitung dan Piala Dunia hanya tinggal diserahkan kepada Augusto, kapten Brazil.

Namun, gol Alcides Ghiggia menyadarkan mereka adalah negara yang muda, rentan, dan gampang putus asa.  Kekalahan yang dikenang sebagai tragedi Maracana (Maracanazo) itu luka sejarah Brazil yang tak tersembuhkan.  

Sepakbola memberi mereka sebuah kutukan. Maracanazo adalah aib kolektif sehingga tak ada satupun orang Brazil yang terbebas dari kutukannya. ‘Seperti bom atom Hiroshima,’ kata Rodriguez, ‘setiap orang mengingatnya, setiap hati terluka.’

Namun sepakbola juga memberi penebusan. Lewat kemenangan di Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970, Brazil menemukan dirinya kembali. Tak hanya sepakbola menghasilkan pemain-pemain dan tim terbaik, ia juga mendefinisikan Brazil sebagai sebuah bangsa.

Tak ada satupun negara di dunia yang diidentikan dengan satu cabang olahraga kecuali Brazil dengan sepakbola. Begitu pentingnya sepakbola bagi Brazil, ia tak pernah sekadar sebagai olah raga. Sepakbola adalah gambaran dari cara orang Brazil menjalani hidupnya.

Pemain lahir dan melatih ketrampilan di jalanan sempit favela. Mereka berlari kencang ke seluruh penjuru dunia untuk meninggalkan kemiskinan yang mendera. Gocekan ritmik dan trik cerdik mengelabui lawan didapat dari musik samba dan seni bela diri capoeira, keahlian yang harus mereka pelajari dan kuasai untuk bisa berkelit dan bertahan dari hidup yang brutal.

Sepakbola memberi jalan keluar, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi sisi hitam kehidupan. Para cartolas menguasai klub dan federasi, memeras tenaga pemain seperti pemilik perkebunan tebu memeras buruhnya. Kompetisi dijalankan seperti bisnis gelap di mana para mafia tengik mendapatkan kekayaan dan kekuasaan. Sepakbola adalah sarana untuk membangun karir sebagai politisi, sarang praktik-praktik korupsi, namun juga medium untuk menampilkan diri sebagai orang suci.

Orang Brazil menyebutnya futebol-arte. Sepakbola sebagai seni. Dunia pun mengenal jogo bonito. Secara metaforis sepakbola cerminan dari seni kehidupan—dengan sisi terang dan sisi gelapnya. Bukan kebetulan jika sejarah sepakbola Brazil berkait berkelindan dengan lika-liku sejarah kolektif mereka sebagai bangsa.  

*****

Sepakbola kontemporer Brazil dipaksa menemukan diri mereka sendiri kembali. Ini setelah mereka mengalami Mineirazo, Hiroshima sepakbola kedua Brazil, yang daya rusaknya tak kalah dibanding Maracanazo.

Seperti tahun 1950, Piala Dunia 2014 adalah wajah Brazil yang percaya diri dan optimis. Kekuasaan Partai Buruh di bawah Lula da Silva meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Gerakan rakyat menguat. Industri menggeliat. Ekspor komoditi meningkat. Bersama Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, Brazil menjadi kekuatan baru dunia.

Dillma Rousseff mencapai puncak popularitasnya (dan sedikit protes) menjelang Piala Dunia dan terpilih kembali setelahnya. Gencarnya investasi, tingginya kunjungan wisatawan, meningkatnya transaksi pemain, dan bergairahnya industri sepakbola domestik mengikuti keajaiban ekonomi Brazil.

Optimisme Brazil sebagai negara besar, modern, dan kuat menggema kembali. Tujuh stadion baru dibangun megah, sementara yang lama direnovasi dan diberi warna berani—kuning, hijau, biru—warna-warna yang mewakili bangsa Brazil. Bahkan, mereka percaya diri bahwa dunia akan pergi ke stadion megah di belantara hutan Amazon.

Namun, Piala Dunia kembali menjadi alegori bagi tragedi politik. Kemegahan stadion dan optimisme penyambutannya mengaburkan kerentanan ekonomi yang bersandar pada ekspor komoditi mentah dan upah kerja rendah. Kegagahan stadion-stadion baru seakan-akan menutupi budaya korupsi. Kemakmuran yang digambarkan mengalihkan kesenjangan dan kerentanan.

Kekalahan 1-7 dari Jerman di Estadio Mineiras, Belo Horizonte memberi mereka bom atom sepakbola ke dua. Brazil, sekali lagi, menemukan mereka sebagai bangsa pecundang, rapuh dan rentan. Tim yang konon punya skuad pertahanan terbaik dunia—David Luiz, Thiago Silva, Dani Alves, Marcelo/Felipe Luiz, Julio Cezar (semuanya finalis Liga Champions dan juara di liga domestik Eropa)—luluh lantak.

Banyak pakar meramalkan Mineirazo akan menggoncang sendi-sendi sepakbola Brazil dan akan butuh waktu lama bagi pemain Brazil untuk pulih dari derita. Kegagalan Selecao di Copa America Centenary Amerika menunjukkan kekalahan di Mineiras itu telah menghancurkan sepakbola Brazil. Paling tidak satu piala Dunia atau satu generasi timnas dibutuhkan untuk lepas dari Mineirazo.

Tragedi Mineirazo paralel dengan gempa politik Brazil. Ketika bangsa Brazil murung tak berkesudahan, popularitas rezim Dilma Roussef mulai dipertanyakan. Retorika kekuatan ekonomi baru dunia dibangun di atas praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan. Sebulan setelah Dunga diturunkan dari kursi kepelatihan setelah gagal di Amerika, Dilma dimakzulkan dari kursi kepresidenan.

Namun, seperti gerakan tak terduga Garrincha atau Ronaldinho, Brazil selalu menghadiahi kita kejutan.

Kejutan itu bernama Tite. Tidak seperti prediksi para ahli, Ia hanya butuh 9 bulan untuk membuat sepakbola dan rakyat Brazil seperti terlahir kembali. Delapan kemenangan beruntun di kualifikasi piala dunia yang dicapai dengan permainan menghibur, menyerang dan produktif seperti telah berhasil menghalau hantu Mineirazo.

Di tangan Tite, Brazil seperti tak mengalami trauma besar. Justru, mereka menunjukkan 
bahwa Brazil masih menjadi pemilik futebol-arte. Selecao bermain lepas, mengalir seperti irama samba, dan tidak gentar menghadapi tantangan, bahkan saat menghadapi tim-tim keras dan menekan, seperti Uruguay dan Paraguay. Ia berhasil meracik kedisiplinan pemain belakang, ketenangan gelandang dan kegesitan pemain depan.

Lewat kemenangan 4-1 lawan Uruguay, kita menyaksikan Brazil yang menemukan dirinya kembali. Pemain Brazil menemukan bahwa mereka adalah tim yang menari di atas lapangan. Dan duniapun menemukan imaji tentang Brazil kembali. Brazil yang cantik, riang dan menang.

Metamorfosis Brazil dapat direfleksikan dari transformasi Neymar. Ia seperti keluar dari kepompong yang selama ini membebatnya. Seperti kupu-kupu, ia bermain lepas, tampak dewasa dan mewarnai lapangan. Tak ada umpan yang meluncur sia-sia. Tak ada aksi pura-pura. Ia juga bermain tanpa rasa takut, selalu menciptakan ruang, dan sangat berbahaya.

Tentu saja, masih awal untuk menyimpulkan bahwa Tite telah membantu Brazil menemukan identitas sepak bolanya kembali. Perjalanan masih panjang. Namun, sejauh dia meyakinkan bahwa setiap pemain Brazil bergerak seperti penari samba sambil terus menghasilkan kemenangan, Brazil boleh optimis tak perlu waktu lama menemukan dirinya kembali sebagai bangsa yang melahirkan futebol-arte.

Kini, kaki mereka sudah berada di Rusia. Untuk menemukan kembali diri mereka sepenuhnya dan membantu dunia menemukannya, Tite dan timnya harus membuktikan bahwa, tak seperti tim-tim Brazil sebelumnya yang hebat di babak kaulifikasi tapi gagal bersinar di babak final, Brazil siap menebus duka-nestapa Mineirazo dengan membawa pulang Hexa Campeon!

* Dimuat di Jawa Pos, Selasa 4 Maret 2017, dengan modifikasi seperlunya.